Skip to main content

Apa yang Diingat dari Mei 1998?


Perihal "dukun santet", "ninja", dan UFO di Jalan Ijen, Malang 😂






Malang, Mei 1998

Usia saya baru 12 tahun, sekitar Juni atau Juli 1998 saya baru masuk SMP. Yang saya ingat, mendadak jajanan favorit naik dua kali lipat. Krip-krip yang semula Rp 25 perbungkus tiba-tiba naik menjadi Rp 100. 😁💪


 

Puncaknya Indomie naik dua kali lipat. Dari Rp 250 jadi Rp 500, lalu merangkak naik sampai Rp 800 di akhir tahun. Bagi pecinta indomie, ini penting. :D


Beberapa tahun lalu saya baru tahu waktu itu harga gandum, bahan baku utama mi meroket sampai empat kali lipat akibat jatuhnya nilai rupiah. Kebutuhan gandum yang didominasi impor, berbanding terbalik dengan daya beli masyarakat yang anjlok, harga mi instan ikut meroket dua kali lipat.


 

 

Ingatan saya samar-samar tentang bulan dan tahun itu. Meski belakangan menjadi sangat akrab lewat cerita narasumber A – Z tentang peristiwa-peristiwa besar yang mengubah wajah republik. Beragam kesaksian di lapangan membuat saya terperangah, meski yang saya ingat kala itu adalah momen ketika Ibu menggunakan telepon rumah bolak-balik menanyakan kondisi kakak pertama saya yang ada di Jakarta.


Telepon rumah waktu itu masih digembok. kalian yang anak 90-an pasti ingat. Seperti apa dan kenapa digembok. Biar tagihan nggak bengkak sob 😁😂

 


"Piye Mbak Ike? Aman kan?" Ibu bertanya via telepon.

"Perlu dijemput? Perlu ngirim Mak'e  ta?" Ibu kembali bertanya


"Mbak Ike kenapa Ma? Pa?"

"Itu le Jakarta rusuh"




Dalam sebuah obrolan kakak saya bercerita, hari-hari sebelum Presiden Soeharto lengser ia jadi saksi bagaimana orang-orang menjarah salah satu pusat grosir di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Suasana mencekam, orang-orang berhamburan di jalanan, penuh tawa sembari menjarah. Semua toko mendadak menyematkan tulisan “Milik Pribumi” di dinding tembok atau penutup tokonya.


"Itu yang di Klender dek, gedung belakangnya masih banyak bekas gosongnya. Dulu waktu Mal Klender pertama kali buka, Vira waktu itu masih bayi, nggak mau turun dari gendongan, ngekep peluk aku, serem"

 

Lalu Presiden Soeharto lengser, Bapak dan Ibu tidak banyak berkomentar waktu mendengar pengumuman pengunduran diri Pak Har. Ibu hanya istighfar, sementara bapak tanya "Beras masih ada kan Ma?"


Bagi saya yang masih bocah mundurnya Pak Har terasa tak terlalu berpengaruh.



 

Hanya saja hari-hari sesudahnya pemuda, bapak-bapak hingga satpam perumahan lebih bersiaga, ronda ditingkatkan. Ada isu dukun santet plus ninja yang kabarnya sedang menebar teror.  Bermula dari Banyuwangi lalu menyebar ke daerah tapal kuda Jawa Timur, hingga daerah "arek' dan "matraman"




Saya ingat suatu pagi membaca kronologis beberapa pembantaian yang terjadi di Banyuwangi karena korban dituduh dukun santet di laman pertama Jawa Pos.  Secara nasional peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan “Dukun Santet” dan “Ninja”.  Pemberitaan makin meluas hingga jadi bidikan jurnalis asing. 


BBC News Online Oktober 1998 mengangkatnya dengan judul “Macabre Murders Sweep Java”. Sementara media cetak Australia, The Sydney Morning Herald pada November 1998 mengangkat tajuk “Indonesia’s New Wave of Terror”.

 

Banyak teori apa motif di balik tindak kriminal main hakim sendiri ini. Menggagalkan Pemilu 1999 dan 2004. Penolakan runtuhnya Orde Baru, Ninja sebenarnya aparat yang menebar teror dan masih banyak teori lainnya yang bisa anda cari satu persatu.


Tapi yang jelas hal ini jadi obrolan seru antar teman sepermainan. Selesai shalat magrib di masjid biasanya kami saling update berita burung seputar peristiwa-peristiwa setelah Pak Har lengser. Maklum, internet belum sepopuler sekarang, handphone pertama saya waktu itu nokia 5110 cuma bisa buat telepon, sms, dan main snake.  Berita dan infromasi kami dapat hanya dari TV dan Koran. Sisanya dari mulut ke mulut.

 

Topiknya bermacam-macam, mulai isu ninja yang datang dari jepang, turunnya UFO di Jalan Ijen Malang hingga orang-orang gila yang suka nyulik anak kecil. Hahaha. Fantasi bocah.

 


 1998 punya banyak arti bagi Indonesia.

Masa Transisi. Berulangnya sejarah dengan cara serupa, tapi tak sama.

Pak Har seperti mendapat karma dari apa yang dilakukannya pada Bung Besar.

Karma pula atas apa yang ia perbuat selama 32 tahun berkuasa.

 

1998. Pengingat. Homo homini lupus.

 


i

Comments

Popular posts from this blog

OSPEK "Mistis" PIS UB 2006

  Sambil memegang tangannya, saya melantunkan ayat kursi di telinga mahasiswa baru itu. Berulang-ulang.  Semakin kencang saya baca ayat kursi dan ayat-ayat pendek yang lain, makin kencang pula ia menarik tangannya.   Apakah “sesuatu” yang di dalam dirinya tersiksa?   Sekitar pertengahan 2006, hawa dingin di Malang, Jawa Timur menandakan masa mahasiswa baru tiba.   Pukul tiga pagi beberapa panitia sudah terlihat di depan sekretariat Himanika (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi) dan Himasigi (Himpunan Ilmu Sosiologi).  Dingin? Sudah Pasti. Suhu bisa sampai belasan derajat celcius waktu itu. Waktu itu FISIP Brawijaya masih bernama PIS (Program Ilmu Sosial).  Hanya ada dua program studi, komunikasi dan sosiologi.  Gedungnya masih numpang di Ruang Kuliah Bersama.  Beberapa ruang bangkunya masih kayu lengkap dengan OHP.   Kondisinya 180 derajat dengan FISIP saat ini.     Maket Gedung FISIP UB 2006 Gedung FISIP UB 2016 PKK Maba P...

Malam Janggal di Coban Rais (Part 1)

“Cok suarane opo iku rek?” suara apa itu?   Suara langgam jawa mengalun jelas di lusinan HT pantia.   “heh jok guyon,  wes budal lo ya” jangan bercanda, sudah berangkat ya “Paling ono mantenan nang ngisor rek, bocor paling” Mungkin ada nikahan di kampung bawah, mungkin bocor.   “Ganti jalur ya kabeh, pindah nang xx.xx” ganti jalur semua ya, pindah ke xx.xx   Sekian menit berselang, samar-samar terdengar suara wanita menyanyi. Dalam bahasa Belanda.   “Jangkrik mosok yo ono londo kawin nang ngisor?” Jangkrik, masa’ ada bule kawin di kampung bawah?   ---- Jumat, 25 Agustus 2006    Kami berkumpul di pelataran Gedung RKB yang kini sudah berubah jadi Gedung Fakultas Ilmu Budaya.   Seratus orang lebih mahasiswa ilmu komunikasi Brawijaya baik peserta dan panitia akan menuju Coban Rais, salah satu air terjun populer, 14 kilometer dari kampus. Jangan samakan Coban Rais 14 tahun yang lalu dengan yang sekarang. Dulu hutan pinus dan air terjun jadi i...

Tragedi Berdarah Mangkok Merah

“Waktu itu di Bekayang di sungai kecil, saya melihat empat mayat mengapung semua tanpa kepala, itu semua saya ungkap” jelas Mas Dod membuka cerita liputannya di Kalimantan Barat 1967. Kalimantan Barat punya arti tersendiri bagi saya. Perjalanan  14 hari menyesapi barat Borneo 7 tahun lalu mempertemukan saya pada wajah ironi perbatasan Aruk, alam perawan Betung Kerihun - Sentarum, hommy-nya kampung dayak Sei Utik,  potret  kultur peranakan Singkawang, hingga tantangan labirin sawit di segala penjuru barat Kalimantan.   Sebuah wawancara dengan wartawan super senior Mas Joseph Widodo pertengahan Juni 2020 membuat saya sadar, ada yang luput dari perjalanan saya di Kalimantan Barat waktu itu.   Sebuah konflik antar etnis yang menjalar dari pedalaman Kalimantan Barat hingga Pontianak menelan ribuan korban jiwa.   Peristiwa  yang dikenal dengan nama Tragedi Mangkok Merah melibatkan tiga kelompok, Tentara , Masyarakat Dayak , dan kelompok pro-komunis, PGRS (P...