Masih setengah enam, tapi lusinan orang bergerombol antri di depan lapak pecel empog Mak Panin, di Pasar Besar kota Batu. Tenang, jarang ada turis. Selera lokal. Tak akan ada yang tiba-tiba ber-gw lo di sini. “Bu sekul pecelipun tigo, sego empog sekawan” Lebaran hari kedua adalah saat untuk “jajan”. Setelah hari pertama babak belur dihajar aneka rupa masakan bersantan, lontong dan ketupat. Pagi hari biasanya saya, Mak’e dan yang sudah bangun menuju Pasar Batu. Kita beli pecel buat sarapan. Pecel bagi kami seperti menu harian sarapan. Sejak SD makanan ini sudah familiar di mulut. Nasi panas dengan aneka rebusan sayur, tempe goreng disiram dengan bumbu kacang manis, asam, pedas, dan gurih. Ini versi paling sederhananya Nah bedanya di Malang ada perpaduan nasi jagung, pakai pecel, lengkap dengan urap-urap, ikan asin, sayur pedes (sayur santan, tahu, tempe, pake PETE), bakwan jagung, dan MENDOL! Kami menyebutnya sego empog pecel. Nasi jagung pake pecel. ...
Travel. History. Food. Culture