Skip to main content

Santai Sore di Titik Tertinggi Maluku Utara

Jam 4 pagi waktu Indonesia Timur. 

Kabut masih menyelimuti Gurabunga. 


Baru ngebrief Nisa materi on cam, 

sebelum akhirnya tanah yang saya pijak hilang mendadak. 


BUG. 

Saya nyemplug got sedalam 1,5 meter. 

15 detik pertama saya seperti kehilangan nafas.


Jambul. Dimas. Nisa. GN



Beruntung lebar got tak terlalu besar. 

Saya tertahan di pinggiran got dan mendarat dengan dada. 

Ampun sesaknya bukan main. 

 

“Lu ngapain Mbon?” Tanya Nisa nahan ketawa.

“Bang lu kenapa Bang?” Jambul nyusul nanya, lagi-lagi nahan ketawa

“Ha ha ha ha ha…Mbooon mboon” Si Dimas kampret kagak ada akhlaknya.

 

Saya cuma bisa terlentang di tanah. 

Susah rasanya mau ambil nafas. 


Karena kondisi gelap, saya nggak sadar ada got dipinggir jalan, dikira masih tanah. 


Apes. Pendakian pagi ini saya mulai meringis, menahan sakit dada yang memar.


Gunung Marijang dilihat dari Ternate

 

Gunung yang kami daki kali ini adalah Gunung Marijang

dengan puncaknya yang dikenal dengan nama Kie Matubu.


Kie dalam bahasa Maluku berarti gunung,

sedangkan matubu, berarti paling tinggi.

 

Disini tidak terdapat pos perizinan untuk mengurus SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).


Desa hanya mewajibkan kami  untuk membawa seorang guide yang akan mengantarkan hingga puncak Kie Matubu.


Biayapun tak dipatok berapa besarannya, untuk satu orang guide.

 

“Seikhlasnya kakak mo kasih berapa” ujar salah satu guide yang menemani kami.

 

Dari awal 10 menit pertama, jalur pendakian sudah dipenuhi tanjakan yang nampol. 

Padahal ini baru kawasan kebun cengkeh dan pala milik warga desa Gurabunga.

 

Perjalanan kami lanjutkan hingga ke batas perkebunan dan hutan, yang didominasi dengan jalur berbatu dan tanjakan yang cukup terjal.


Beberapa kali kami berhenti untuk on cam.


KRAAAAK

Suara itu bukan suara injakan ranting,

atau pohon yang tumbang.


Celana saya sobek saudara-saudara.

dari paha hingga selangkangan.


Tanjakan yang lumayan 

membuat langkah mungkin terlalu lebar.

celana saya sepertinya menyerah. 


kam to the pret.


berusaha menutup celana yang sobek :D





Setelah melewati tanjakan tersebut barulah kita akan memasuki kawasan hutan yang cukup lebat.

 

Hampir tidak ada bonus di jalur pendakian kami kali ini.

Nafas tersengal-sengal, paha dan kaki mulai terasa pegal.


Namun lebatnya hutan membuat suhu terasa lebih dingin.

Sudah setengah jalan, pantang mundur sampai nanti sampai di puncak Kie Matubu.

 

“Aduh bang, berhenti dulu Bang” Jambul mengajak kami untuk rehat sejenak.

“Ah lu Mbul, ayo biar ga kemaleman turunnya mbul” timpal Dimas

“Badan gw ga setipis lu mas dimaaaas, lu ah sana duluan”

 

“Ribuuuut mulu dah” Nisa nimbrung sambil jalan santai.

Memang Mamud satu anak ini kakinya enteng banget di gunung.

 

Saya? Jelas masuk Tim Jambul. 

Alon-alon asal kelakon.

 

Kurang lebih 6 jam, kami akhirnya tiba di Pos terakhir.

Hampir dua kali lipat dari waktu yang diperlukan oleh akamsi untuk tiba di sini.

 

“Aduhh ampunnn. Ini jalurnya bener-bener engga dikasih istirahat sama sekali. Nanjak terus, ini kemiringannya bisa sampai tujuh puluh derajat. Dengkul nih bisa nyentuh dada.“ 

Nisa ngomong ke arah kamera sambil ngatur nafas.

 

Keluar dari Pos  5, hutan lebat tiba-tiba lenyap.

Berganti ilalang tinggi yang membentuk labirin-labirin hijau.


180 derajat berbeda dengan track yang kami lewati sebelumnya.

 

 

 

Setelah melalui tanjakan 75 derajat, diselingi beberapa bonus mendatar,

tibalah kami di bibir kawah Kie Matubu. 


Peluh dan keringat selama pendaki terbayar dengan keindahan pemandangan di titik tertinggi Maluku Utara.




Gulungan awan terlihat menutup jalur pendakian, di sisi kiri.


Sementara di sisi depan, Ternate dan Gunung Gamalama terlihat megah, dikelilingi oleh laut biru Maluku Utara.



Hembusan angin kencang di ketinggian membuat awan datang dan pergi melewati kami.

 

Kawah mati Marijang kadang memutih, kadang menunjukkan lubang menganga sedalam ratusan meter yang menjadi jejak aktivitas vulkanik di masa silam.

 

 

 

 

Kie Matubu mungkin tak setinggi dengan gunung-gunung lain yang ada di Indonesia.


Namun gagahnya gunung setinggi 1730 meter ini dan panorama magis di puncaknya jelas susah dilupa.

 

Kami membuka logistik, menyeduh kopi, dan mengeluarkan bekal yang kami punya, 

sembari menikmati pemandangan 360 derajat yang luar biasa ini. 


Menikmati santai sore di puncak Tidore, ditemani kopi panas, mie instan dan biskuit kelapa seadanya. 


Istimewa.


 


Menuruni Kie Matubu jadi cerita tersendiri.

Kelelahan mendaki membuat penurunan penuh tantangan.

Lutut bergetar, karena turunan yang begitu curam.

 

Karena ingin segera sampai Gurabunga

Bebeapa turun dengan kecepatan penuh.

Sedangkan beberapa yang lututnya sudah lemas turun perlahan.


Kami terpisah satu sama lain.

 


Sekitar pukul 4 sore.

Entah di posisi pos berapa saya berhenti.

Di antara pepohonan tinggi,

Tiba-tiba kabut tebal menghampiri.

Di situ saya merasa tidak sendiri.

Seakan banyak yang mengawasi.

Buluk kuduk berdiri.

 

Beberapa kalian yang suka naik gunung pasti pernah mengalami.

Entah permainan pikiran atau memang ada yang lain hadir di sekitar.

 

“Bang, sendiri aja Bang?”

sebuah suara parau muncul dari belakang.


Saya perlahan menoleh. Memastikan manusia atau bukan.

Sesosok laki-laki tambun sempoyongan.

 

“Bera* lu mbul gw pikir siapa?”

Jambul memecahkan kesunyian.

 

Hampir lima jam kami turun dari puncak Kie Matubu.

lelah?

Mungkin video berikut bisa jadi jawabannya.

 

 

 

 


Naik turun gunung.

Keluar masuk laut.

Kami membawa oleh-oleh dari Tidore.

Kulit gosong. hahahaha

 



 

Comments

Popular posts from this blog

OSPEK "Mistis" PIS UB 2006

  Sambil memegang tangannya, saya melantunkan ayat kursi di telinga mahasiswa baru itu. Berulang-ulang.  Semakin kencang saya baca ayat kursi dan ayat-ayat pendek yang lain, makin kencang pula ia menarik tangannya.   Apakah “sesuatu” yang di dalam dirinya tersiksa?   Sekitar pertengahan 2006, hawa dingin di Malang, Jawa Timur menandakan masa mahasiswa baru tiba.   Pukul tiga pagi beberapa panitia sudah terlihat di depan sekretariat Himanika (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi) dan Himasigi (Himpunan Ilmu Sosiologi).  Dingin? Sudah Pasti. Suhu bisa sampai belasan derajat celcius waktu itu. Waktu itu FISIP Brawijaya masih bernama PIS (Program Ilmu Sosial).  Hanya ada dua program studi, komunikasi dan sosiologi.  Gedungnya masih numpang di Ruang Kuliah Bersama.  Beberapa ruang bangkunya masih kayu lengkap dengan OHP.   Kondisinya 180 derajat dengan FISIP saat ini.     Maket Gedung FISIP UB 2006 Gedung FISIP UB 2016 PKK Maba P...

Malam Janggal di Coban Rais (Part 1)

“Cok suarane opo iku rek?” suara apa itu?   Suara langgam jawa mengalun jelas di lusinan HT pantia.   “heh jok guyon,  wes budal lo ya” jangan bercanda, sudah berangkat ya “Paling ono mantenan nang ngisor rek, bocor paling” Mungkin ada nikahan di kampung bawah, mungkin bocor.   “Ganti jalur ya kabeh, pindah nang xx.xx” ganti jalur semua ya, pindah ke xx.xx   Sekian menit berselang, samar-samar terdengar suara wanita menyanyi. Dalam bahasa Belanda.   “Jangkrik mosok yo ono londo kawin nang ngisor?” Jangkrik, masa’ ada bule kawin di kampung bawah?   ---- Jumat, 25 Agustus 2006    Kami berkumpul di pelataran Gedung RKB yang kini sudah berubah jadi Gedung Fakultas Ilmu Budaya.   Seratus orang lebih mahasiswa ilmu komunikasi Brawijaya baik peserta dan panitia akan menuju Coban Rais, salah satu air terjun populer, 14 kilometer dari kampus. Jangan samakan Coban Rais 14 tahun yang lalu dengan yang sekarang. Dulu hutan pinus dan air terjun jadi i...

Tragedi Berdarah Mangkok Merah

“Waktu itu di Bekayang di sungai kecil, saya melihat empat mayat mengapung semua tanpa kepala, itu semua saya ungkap” jelas Mas Dod membuka cerita liputannya di Kalimantan Barat 1967. Kalimantan Barat punya arti tersendiri bagi saya. Perjalanan  14 hari menyesapi barat Borneo 7 tahun lalu mempertemukan saya pada wajah ironi perbatasan Aruk, alam perawan Betung Kerihun - Sentarum, hommy-nya kampung dayak Sei Utik,  potret  kultur peranakan Singkawang, hingga tantangan labirin sawit di segala penjuru barat Kalimantan.   Sebuah wawancara dengan wartawan super senior Mas Joseph Widodo pertengahan Juni 2020 membuat saya sadar, ada yang luput dari perjalanan saya di Kalimantan Barat waktu itu.   Sebuah konflik antar etnis yang menjalar dari pedalaman Kalimantan Barat hingga Pontianak menelan ribuan korban jiwa.   Peristiwa  yang dikenal dengan nama Tragedi Mangkok Merah melibatkan tiga kelompok, Tentara , Masyarakat Dayak , dan kelompok pro-komunis, PGRS (P...