Skip to main content

Posts

"Darah itu Merah Jenderal" dan Trauma Tahunan Satu Generasi

"Darah itu merah, Jenderal! Bukan main wanginya minyak wangi, Jenderal! Begitu harum sehingga mengalahkan amis darah sendiri" Penggalan dialog dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI itu ternyata masih terngiang hingga saat ini. Film yang membuat saya dan ratusan ribu bahkan jutaan pelajar di Indonesia panas dingin dalam satu malam yang sama. Hubungan saya dengan peristiwa 1965 dimulai tahun 1992, bocah SD tahun pertama yang dipaksa banyak hal di satu malam yang penuh paksaan ini. 1. Dipaksa terjaga tiga jam lebih, mulai Dunia Dalam Berita jam 9 malam. 2. Dipaksa menulis review dan sinopsis film pada kertas HVS dengan tulisan tangan yang dikumpulkan tiap 1 Oktober. 3. Dipaksa mempercayai semua episode dalam film Pengkhianatan G30SPKI adalah fakta dan PKI adalah dalang Gestapu. "Siksaan" psikologis itu dimulai dari menit-menit pertama, potongan kliping berita koran disambut dengan penyerangan jamaah salat subuh di sebuah langgar dengan musik super men...

Semangkok Bakso Malang, Saat Inul Sepanggung dengan Sheila on 7

“I realized very early the power of food to evoke memory, to bring people together, to transport you to other places” – Jose Ramon Andreas Puerta, koki Spanyol, dan pendiri World Central Kitchen Hidup di kota dimana bakso menjadi semacam kuliner khas andalan membuat inisiasi bakso saya berjalan sejak dini. Di dalam gendongan jarik Jawa jelang senja, samar-samar teringat Mak’e, pengasuh kami menyuap sendok demi sendok semangkok nasi yang terendam kuah bakso panas ke mulut mungil saya. Bakso halus dipotongnya kecil-kecil, menghangatkan perut sambal menikmati sejuk kota di kaki Gunung Panderman dan Arjuna itu. Sejak balita bakso menjadi comfort food. Kala sehat, bakso jadi santapan yang menggairahkan, meletup-letup gurih pedas dengan aneka rupa side dish yang menawan. Kala sakit, bakso jadi obat yang menyegarkan, memberi rasa pada mulut yang hambar. Bakso punya sejarah panjang hingga bisa masuk ke Nusantara. Menurut catatan sejarah, pada akhir Dinasti Ming sekitar akhir abad ke-17 ...

172 Hari Keliling Indonesia

Cirebon, 3 Juli 2013.   Pagi itu saya sudah mandi dan berpakaian  rapi. Bahkan untuk pertama kalinya saya  memakai parfum dan kemeja setelah 172 hari tanpa wewangian.   Ramon yang baru bangun dan menjadi “teman tidur” saya selama berbulan-bulan jadi heran.   “Kon lapo Mbon? Isuk-isuk kok wes tangi? nggawe parfum barang” Kamu ngapain Mbon, pagi-pagi kok sudah bangun? Pake parfum segala.   Pertanyaan Ramon memang wajar dilontarkan, Ratusan hari kami jarang pakai parfum.  Mentok deodoran. Pakai kemejapun, saya tak pernah.   “Lho kene ate mulih yo Mon, kudu wangi rek” Kan kita mau pulang, harus wangi dong.   3 Juli adalah hari dimana kami akan kembali ke Jakarta setelah menempuh perjalanan panjang yang dimulai 13 Januari 2013. Stasiun Tanah Abang, 13 Januari 2013 Hari terakhir shoot, 2 Juli 2013 Perjalanan menyusuri Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Flores, Bali hingga kembali ke Jawa.   Sebuah ekpedisi dengan premis pertanyaan sederhan...

Malam Janggal di Coban Rais (Part 1)

“Cok suarane opo iku rek?” suara apa itu?   Suara langgam jawa mengalun jelas di lusinan HT pantia.   “heh jok guyon,  wes budal lo ya” jangan bercanda, sudah berangkat ya “Paling ono mantenan nang ngisor rek, bocor paling” Mungkin ada nikahan di kampung bawah, mungkin bocor.   “Ganti jalur ya kabeh, pindah nang xx.xx” ganti jalur semua ya, pindah ke xx.xx   Sekian menit berselang, samar-samar terdengar suara wanita menyanyi. Dalam bahasa Belanda.   “Jangkrik mosok yo ono londo kawin nang ngisor?” Jangkrik, masa’ ada bule kawin di kampung bawah?   ---- Jumat, 25 Agustus 2006    Kami berkumpul di pelataran Gedung RKB yang kini sudah berubah jadi Gedung Fakultas Ilmu Budaya.   Seratus orang lebih mahasiswa ilmu komunikasi Brawijaya baik peserta dan panitia akan menuju Coban Rais, salah satu air terjun populer, 14 kilometer dari kampus. Jangan samakan Coban Rais 14 tahun yang lalu dengan yang sekarang. Dulu hutan pinus dan air terjun jadi i...