Skip to main content

Bersyukur Bersama-sama!

 

Hari ini media sosial meresonansi beragam rasa ingin. 

Postingan tanpa tendensi, apalagi yang benar-benar flexing bisa memancing rasa iri.

Kita terpapar kehidupan orang lain 24 jam, 7 hari.

Mengutip salah satu falsafah hidup Jawa populer,

"Sejatine urip iku mung sawang sinawang."

"Hakikat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang melihat sebuah kehidupan, saling memandang hidup orang lain"

Nikmatnya kasur dan selimut akhir pekan bisa saja berkurang saat melihat yang lain sedang di tepi pantai, di puncak gunung, jalan-jalan di luar negeri, hingga hangout di resto mewah.

Kerjaan yang kita nikmati, tiba-tiba terasa nggak asik karena pencapaian, kepemilikan, dan rupa-rupa ‘keberhasilan’ karir dan materi orang lain.

Kita dikepung kisah sukses si A, keberhasilan si B, Forty under Forty, Thirty under Thirty, 

10 Daftar Orang Terkaya, Best Entrepreneur dst dst dst.


Menyimak semuanya,

Tiba-tiba kita merasa serba kurang.

Karena kita terlalu sering menyimak "halaman" orang.


Hidup jadi serba tidak enak, karena kita mulai membandingkan apa yang orang lain punya, sementara kita tidak.

Tanpa sadar kita melupakan yang sudah kita miliki. Sandang, pangan, papan yang sudah tercukupkan.

Kita lupa merayakan hal-hal sederhana di sekitar.

Sesederhana cuaca cerah, kopi panas, tawa anak, bakso kikil lengkap dengan tetelan dan kuah gurih yang menggugah selera.

Apa hal-hal sederhana di sekitarmu yang ingin kau rayakan?

Sebutkan tiga saja.

Angkat gelas!! Bersyukur bersama-sama 🍻

Comments

Popular posts from this blog

OSPEK "Mistis" PIS UB 2006

  Sambil memegang tangannya, saya melantunkan ayat kursi di telinga mahasiswa baru itu. Berulang-ulang.  Semakin kencang saya baca ayat kursi dan ayat-ayat pendek yang lain, makin kencang pula ia menarik tangannya.   Apakah “sesuatu” yang di dalam dirinya tersiksa?   Sekitar pertengahan 2006, hawa dingin di Malang, Jawa Timur menandakan masa mahasiswa baru tiba.   Pukul tiga pagi beberapa panitia sudah terlihat di depan sekretariat Himanika (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi) dan Himasigi (Himpunan Ilmu Sosiologi).  Dingin? Sudah Pasti. Suhu bisa sampai belasan derajat celcius waktu itu. Waktu itu FISIP Brawijaya masih bernama PIS (Program Ilmu Sosial).  Hanya ada dua program studi, komunikasi dan sosiologi.  Gedungnya masih numpang di Ruang Kuliah Bersama.  Beberapa ruang bangkunya masih kayu lengkap dengan OHP.   Kondisinya 180 derajat dengan FISIP saat ini.     Maket Gedung FISIP UB 2006 Gedung FISIP UB 2016 PKK Maba P...

Malam Janggal di Coban Rais (Part 1)

“Cok suarane opo iku rek?” suara apa itu?   Suara langgam jawa mengalun jelas di lusinan HT pantia.   “heh jok guyon,  wes budal lo ya” jangan bercanda, sudah berangkat ya “Paling ono mantenan nang ngisor rek, bocor paling” Mungkin ada nikahan di kampung bawah, mungkin bocor.   “Ganti jalur ya kabeh, pindah nang xx.xx” ganti jalur semua ya, pindah ke xx.xx   Sekian menit berselang, samar-samar terdengar suara wanita menyanyi. Dalam bahasa Belanda.   “Jangkrik mosok yo ono londo kawin nang ngisor?” Jangkrik, masa’ ada bule kawin di kampung bawah?   ---- Jumat, 25 Agustus 2006    Kami berkumpul di pelataran Gedung RKB yang kini sudah berubah jadi Gedung Fakultas Ilmu Budaya.   Seratus orang lebih mahasiswa ilmu komunikasi Brawijaya baik peserta dan panitia akan menuju Coban Rais, salah satu air terjun populer, 14 kilometer dari kampus. Jangan samakan Coban Rais 14 tahun yang lalu dengan yang sekarang. Dulu hutan pinus dan air terjun jadi i...

Tragedi Berdarah Mangkok Merah

“Waktu itu di Bekayang di sungai kecil, saya melihat empat mayat mengapung semua tanpa kepala, itu semua saya ungkap” jelas Mas Dod membuka cerita liputannya di Kalimantan Barat 1967. Kalimantan Barat punya arti tersendiri bagi saya. Perjalanan  14 hari menyesapi barat Borneo 7 tahun lalu mempertemukan saya pada wajah ironi perbatasan Aruk, alam perawan Betung Kerihun - Sentarum, hommy-nya kampung dayak Sei Utik,  potret  kultur peranakan Singkawang, hingga tantangan labirin sawit di segala penjuru barat Kalimantan.   Sebuah wawancara dengan wartawan super senior Mas Joseph Widodo pertengahan Juni 2020 membuat saya sadar, ada yang luput dari perjalanan saya di Kalimantan Barat waktu itu.   Sebuah konflik antar etnis yang menjalar dari pedalaman Kalimantan Barat hingga Pontianak menelan ribuan korban jiwa.   Peristiwa  yang dikenal dengan nama Tragedi Mangkok Merah melibatkan tiga kelompok, Tentara , Masyarakat Dayak , dan kelompok pro-komunis, PGRS (P...