Skip to main content

Jeng Yah dan Genosida 1965

“Aku menyaksikan bagaimana sebuah hidup dihancurkan oleh sebuah malam” - Soeraja, eps 3 Gadis Keretek.

Tak hanya tentang kisah romansa Dasiyah – Soeraja yang belakangan wira-wiri di timeline media sosial. Ini juga tentang malam-malam panjang yang harus dilalui penyintas genosida politik 1965 – 1966. Meski samar dan sekilas.


Kisah roman Dasiyah dan Soeraja dalam serial Netflix berjudul Gadis Keretek belakangan jadi perhatian. 

Cerita dimulai di Jakarta awal 2000-an, Lebas (Arya Saloka) diminta ayahnya yang sedang sakit keras untuk mencari seorang wanita bernama Jeng Yah. 

Berbekal foto lawas yang diberi sang ayah, Lebas menuju Kota M dan bertemu dengan seorang dokter muda berana Arum (Putri Marino). 

Ternyata Jeng Yah alias Dasiyah (Dian Sastrowardoyo) yang dicari Lebas adalah kakak dari Ibu Arum. 

Melihat hubungan ini keduanyapun melakukan penelusuran dari catatan tangan Dasiyah, mengungkap teka-teki hubungan antara Soeraja muda (Ario Bayu) dan Dasiyah di masa silam.

Meski sesekali 'Cinta' muncul ke permukaan, Dian Sastrowardoyo sekuat tenaga tampil beda dengan gestur, intonasi, ekspresi dan gerak-gerik sebagai Dasiyah, seorang perempuan Jawa dari kalangan menengah, anak dari seorang pemilik pabrik kretek yang tak banyak bicara, apalagi mengungkapkan perasaannya. 

Dasiyah lebih memilih menuangkan pikiran dan impiannya untuk menjadi seorang peracik saos keretek dalam bentuk catatan.


Kisah percintaan Dasiyah dan Soeraja, seorang pria yang dipungut ayahnya dari jalanan dan bekerja di pabrik kretek milik keluarganya, mengantar penonton pada alur maju mundur. 

Serial ini bergulir mulus 5-episode dengan kisah masa lalu diwakili dengan kehadiran kisah Dasiyah dan Soeraja. Sementara periode kekinian, masa tahun 2000-an, diwakili cerita dari dua karakter utama, Arum dan Lebas. 

Penonton dibawa naik turun dalam setiap episode, sekaligus menebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya pada masing-masing tokoh.

Apalagi Ario Bayu, Putri Marino, Aria Saloka dan hampir seluruh jajaran castnya memberikan penampilan terbaiknya.


Yang menarik peristiwa 30 September 1965 punya andil besar membelokkan jalan cerita serial roman ini. 

Soeraja diceritakan membantu produksi Kretek Merah yang diproduksi oleh sebuah partai politik bernama Partai Merah. 


Meski tak digambarkan secara detail, namun rasanya jelas Partai Merah yang dimaksud adalah PKI.

Cerita bergulir banyak orang menghilang, toko-toko di pasar ditandai tanda silang merah. 

Apalagi Dasiyah juga ditangkap, dipenjara tanpa pengadilan karena berusaha menyelamatkan sang ayah yang masuk dalam daftar ‘merah’ untuk ‘diamankan’ karena dianggap berhubungan dengan Partai Merah.

Dalam dua adegan juga terdengar jelas suara penyiar radio yang menyingung terbunuhnya jenderal dan surat perintah 11 Maret. 

Shanty Harmayn dan Tanya Yuson sebagai showrunner Gadis Kretek memilih tak terlalu detail dan mendalam tentang bagaimana orang-orang yang dianggap terkait dengan PKI atau dalam serial ini disebut Partai Merah ditangkap tanpa diadili. 

Sebagai Showrunner keduanya hanya memunculkan isu persekusi massal 1965 – 1966 ini lewat dialog singkat para buruh pabrik kretek yang bertanya-tanya kenapa banyak orang hilang hingga adegan Dasiyah ditangkap dan dipenjara.


Menengok ke belakang, genosida 1965 - 1966 sering dibingkai sebagai kekerasan horizontal akibat kemarahan masyarakat terhadap kekejaman PKI karena dianggap dalang dari pembunuhan para jenderal TNI AD di Jakarta. 

Apa yang dialami oleh Dasiyah bukan fiksi,  tapi potret nyata salah satu sejarah paling kelam dan kontroversial bangsa Indonesia hingga kini. 


Mereka ditangkap, disiksa sedemikian rupa tanpa tahu salah apa. Jika beruntung akan dilepaskan, jika tak mujur nyawa melayang oleh tebasan parang atau terjangan peluru di pinggir pantai, di hutan dan di tengah lapangan.

Jumlah korban dari penangkapan disertai pembunuhan pasca Gerakan 30 September mencapai angka yang fantastis. 


Presiden Sukarno pada Desember 1965 membentuk Komisi Pencari Fakta yang dipimpin Menteri Dalam Negeri, Mayjen Soemarno, hasilnya jumlah korban pembunuhan pasca G-30 S mencapai 80 ribu jiwa. 

Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dalam salah satu laporannya menyebut angka korban mencapai 1 juta jiwa dengan kosentrasi besar berada di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. 

Dari 1 juta korban tewas tersebut, diduga orang yang benar-benar berafiliasi dengan komunis hanya sekitar 20 persen saja. 

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia pada 23 Juli 2012 merilis data perkiraan korban mencapai kisaran 500 ribu hingga 3 juta jiwa.


Pada tahun 2016, pengadilan rakyat internasional atau International People’s Tribunal (IPT) memutuskan Indonesia bertanggung jawab atas 10 tindakan kejahatan hak asasi manusia (HAM) berat pada 1965-1966. 

Salah satunya Indonesia terbukti melakukan genosida atau tindakan sengaja untuk menghancurkan sebagian atau seluruh golongan penduduk tertentu. 

Kejahatan genosida ini dialami anggota, pengikut dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), serta loyalis Presiden Sukarno dan anggota Partai Nasional Indonesia (PNI).


Maka kembali ke Gadis Keretek, adegan saat Dasiyah dibebaskan dengan kepala ditutup karung goni adalah adegan yang memilukan.

Saat karung goni dibuka, Dasiyah yang sepanjang episode 1 dan 2 terlihat rapi, sempurna, ningrat berubah seketika menjadi pesakitan. 


Gejolak politik yang terjadi kala pergantian rezim yang berkuasa ternyata membalikkan seluruh kehidupan Jeng Yah.

Gadis Kretek terasa begitu manis, gurih dan getir. Memadukan drama percintaan Dasiyah, sejarah kretek, feminisme hingga budaya patriarki di tengah masyarakat. 

Setting dan kostumnya terasa begitu detail, begitu nyata, begitu rapi hingga saya kadang nggak sadar kalau ini hanyalah fiksi.

Kamila Andini dan Ifa Ifansyah yang kebetulan pasangan suami istri sekaligus sutradara Gadis Keretek mengaku, membangun lebih dari 100 set di 20 lokasi berbeda. 

Imaji era 1960-an dan awal 2000-an tergambar nyata dari set produksi, wardrobe, transportasi, handphone hingga layout Kota M dan Jakarta di masing-masing periodenya. 

Skenario kuat, akting para aktor yang tak kalah memikat, sinematografi indah, kualitas produksinya di atas rata-rata.

Rasanya tak berlebihan kalau saya harus akui, ini adalah salah satu serial Indonesia terbaik sepanjang 2023 atau bahkan sepanjang massa? Siapa yang sepakat?

Comments

Popular posts from this blog

The Rise of Soeharto dan Persekusi Massal 1965

“CIA tidak senang kepada Soekarno karena Soekarno itu amat sangat kritis kepada Amerika dan yang kedua mereka juga tentu tidak ingin komunis itu berkuasa di Indonesia gitu" - Prof Asvi Warman Adam, November 2018 Melanjutkan part sebelumnya " Perihal Jenderal Besar Soeharto dan Wawancara Zuper Prof Salim Said   a khirnya saya melakukan wawancacara tambahan dengan Prof Asvi Warman, peneliti politik senior LIPI dan Bonnie Triyana, Pemred Historia.   Prof Asvi Warman Adam Gedung LIPI Jakarta, 19 November 2018 00:21:21 – 10:16:22   “Soeharto pada tahun 1965 itu bukanlah jendral yang diperhitungkan dalam arti lebih banyak jendral yang lebih senior dari dia, lebih banyak yang mempunyai posisi yang startegis dari Soeharto, tapi dengan terbunuhnya 6 orang jendral pada tahun 1965 itu menjadi peluang bagi Soeharto untuk menduduki posisi yang lebih tinggi. Dan yang kedua yang perlu dicatat juga bahwa Jendral Nasution yang lebih senior daripada Soeharto pada saat itu tidak memiliki po...

Tragedi Berdarah Mangkok Merah

“Waktu itu di Bekayang di sungai kecil, saya melihat empat mayat mengapung semua tanpa kepala, itu semua saya ungkap” jelas Mas Dod membuka cerita liputannya di Kalimantan Barat 1967. Kalimantan Barat punya arti tersendiri bagi saya. Perjalanan  14 hari menyesapi barat Borneo 7 tahun lalu mempertemukan saya pada wajah ironi perbatasan Aruk, alam perawan Betung Kerihun - Sentarum, hommy-nya kampung dayak Sei Utik,  potret  kultur peranakan Singkawang, hingga tantangan labirin sawit di segala penjuru barat Kalimantan.   Sebuah wawancara dengan wartawan super senior Mas Joseph Widodo pertengahan Juni 2020 membuat saya sadar, ada yang luput dari perjalanan saya di Kalimantan Barat waktu itu.   Sebuah konflik antar etnis yang menjalar dari pedalaman Kalimantan Barat hingga Pontianak menelan ribuan korban jiwa.   Peristiwa  yang dikenal dengan nama Tragedi Mangkok Merah melibatkan tiga kelompok, Tentara , Masyarakat Dayak , dan kelompok pro-komunis, PGRS (P...

OSPEK "Mistis" PIS UB 2006

  Sambil memegang tangannya, saya melantunkan ayat kursi di telinga mahasiswa baru itu. Berulang-ulang.  Semakin kencang saya baca ayat kursi dan ayat-ayat pendek yang lain, makin kencang pula ia menarik tangannya.   Apakah “sesuatu” yang di dalam dirinya tersiksa?   Sekitar pertengahan 2006, hawa dingin di Malang, Jawa Timur menandakan masa mahasiswa baru tiba.   Pukul tiga pagi beberapa panitia sudah terlihat di depan sekretariat Himanika (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi) dan Himasigi (Himpunan Ilmu Sosiologi).  Dingin? Sudah Pasti. Suhu bisa sampai belasan derajat celcius waktu itu. Waktu itu FISIP Brawijaya masih bernama PIS (Program Ilmu Sosial).  Hanya ada dua program studi, komunikasi dan sosiologi.  Gedungnya masih numpang di Ruang Kuliah Bersama.  Beberapa ruang bangkunya masih kayu lengkap dengan OHP.   Kondisinya 180 derajat dengan FISIP saat ini.     Maket Gedung FISIP UB 2006 Gedung FISIP UB 2016 PKK Maba P...